Persoalan di Kota Bogor disebabkan oleh dua hal. Pertama, persoalan infrastruktur dan kedua, persoalan kultur. Persoalan infrastruktur yakni kota yang terlalu terpusat di tengah, semua menuju ketengah kota, sehingga semuanya berkumpul ditengah dan menimbulkan kemacetan di tengah kota. 


Persoalan tersebut diperparah dengan jumlah angkot yang sudah terlalu banyak. Untuk mengatasinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor 16 Maret 2017 ini akan melakukan rerouting (penggabungan trayek) angkot yang tersebar hingga ke 68 Kelurahan di Kota Bogor.

“Angkot akan disebar kepinggir dan beberapa tahun lagi angkot akan menjadi sejarah di Kota Bogor karena akan diganti menjadi Trans Pakuan,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya saat acara launching 7 gerakan 
simpatik yang digelar Polresta Bogor Kota di Taman Ekspresi, Kota Bogor. Minggu (12/03/17).

Terkait persoalan infrastruktur, Bima menambahkan Pemkot Bogor akan mengatasinya dengan cara memperbaiki jalan, membangun jembatan dan juga mengatur tata kotanya. Sedangkan mengenai persoalan kultur, Bima menilai saat ini masih banyak warga belum paham bahwa infrastruktur dibangun untuk dirawat dan dijaga.

"Percuma Pemkot Bogor membangun taman kalau kemudian dirusak, dihancurkan 
dan diinjak-injak. Begitu pula dengan fasilitas tempat sampah yang sudah dipasang, tetapi tidak lama kemudian hilang dicuri," tuturnya.

Ayah dari Kinaura Maisha (Kin), dan Kenatra Mahesha (Ken) itu menyimpulkan bahwa persoalan utama di kota Bogor bukan hanya infrastruktur tetapi juga kultur.

"Pemkot Bogor ikhlas untuk di evaluasi, di kritik dan diingatkan. Namun tolong warga juga harus evaluasi, buanglah sampah pada tempatnya dan hidup 
tertib di Kota Bogor," urai Bima.

Pekerjaan Rumah (PR) kedepan lanjut Bima, bukan hanya infrastrukturnya tetapi juga kulturnya. 

"Trilyunan, miliaran rupiah akan percuma kalau tidak siap untuk membangun satu kultur yang siap merawat dan memelihara," pungkasnya. (Tria/Indra) SZ

Komentar (0)


    Belum ada komentar untuk postingan ini

Komentari