Bogor - Pemerintah Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat berencana menambah jumlah angkot berbahan bakar gas (BBG) dengan mengaktifkan kembali 1.001 angkutan kota yang sudah terpasang "konverter kit" sejak 2009 lalu.

"Akan ada 1.051 angkot BBG yang dioperasikan di Kota Bogor," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, Suharto, di Bogor, Minggu (5/4).

Suharto mengatakan program angkot BBG telah dimulai sejak 2009 terdapat 1.001 angkot yang sudah dipasang konverter kit oleh Pemerintah Kota Bogor.

Namun program tersebut belum berjalan karena terkendala oleh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang belum tersedia. Hingga 2014, program angkot BBG kembali diaktifkan oleh Pemerintah Kota Bogor bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Lewat dana pertanggungjawaban sosial atau CSR PGN memasak konverter kit untuk 50 angkot trayek khusus yang melintas di sekitar SPBG di Jalan Merdeka.

"Jadi jika 1.001 angkot yang sudah mendapatkan konverter kit ditambah 50 angkot yang sudah berbahan bakar gas saat ini, total ada 1.051 angkot di Kota Bogor yang menggunakan BBG," katanya.

Menurut Suharto, angkot BBG merupakan salah satu upaya penataan transportasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota dalam menghadirkan transportasi ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Achsin Prasetyo menyebutkan untuk mengaktifkan kembali angkot BBG memerlukan waktu serta kesiapan SPBG. Selain itu 1.001 angkot yang sudah dipasang konvertir kit perlu dicek kondisi kendaraannya.

"Harus bertahap tidak bisa serta merta sekaligus dioperasionalkan, kita harus melihat dulu mengencek lagi kondisi angkot dan konverter kit yang ada pada masing-masing angkot," katanya.

Achsin menyebutkan, secara bertahap akan disiapkan untuk 400 angkot yang sudah terpasang konverter kit untuk dilakukan "tune up" sebelum diaktifkan lagi sebagai angkot BBG.

Wakil Sekretaris Organda Kota Bogor, Yadi Indra Mulyadi menambahkan, kondisi 1.001 angkot yang telah terpasang konverter kit masih ada, namun kebanyakan pemilik angkot sudah melepasnya.

"Konverter kitnya masih ada, memang ada yang melepaskannya, bukan berarti konverter kitnya hilang. Alat itu masih bisa dioperasikan, hanya perlu diverifikasi ulang. Kalau memang mau dioperasional kita tidak ada masalah," katanya.

Sedangkan Ketua Organda Moch Ishak menilai angkot BBG menjadi salah satu solusi dalam menyikapi naik turunnya BBM yang merugikan para supir angkot, karena harus menyesuaikan tarif sementara masyarakat sudah beralih ke angkutan pribadi.

/YUD

Antara

Komentar (0)


    Belum ada komentar untuk postingan ini

Komentari