Naik becak itu nyaman. Siapapun yang naik becak selagi melaju di jalan lurus dan mulus, pasti bisa merasa nyaman. Sambil duduk santai, penumpang bisa menikmati laju becak perlahan ditemani angin yang bertiup semilir. Bahkan pada jaman dulu penumpang bisa menikmati suara dengung. Sebab di bagian bawah, diantara kedua rodanya, dibentangkan karet yang kemudian mengeluarkan suara dengung ketika becak melaju. 

Sekarang kenyamanan itu susah dinikmati. Apalagi kalau naik becak di kawasan Jembatan Merah ke arah Panaragan, dari Paledang ke Terminal Merdeka atau dari Taman Topi ke Pasar Anyar. Tak ada lagi kenyamanan. Disitu becak-becak tidak lagi mampu melaju. Naik becak di jalur-jalur itungeri, karena becak harus bertarung dengan angkot, sepeda motor dan mobil-mobil pribadi.

Apa boleh buat di jalur-jalur padat kendaraan seperti itu, becak harus menyingkir. Sebab tidak bisa lagi bersaing. Keberadaannya pun lebih sering dikeluhkan pengguna kendaraan lain. Dianggap mengganggu laju mobil dan motor serta menyebabkan kemacetan bertambah parah. Becak harus menepi, pindah ke lokasi aman.

Tidak Dimusnahkan

“Becak sebaiknya beroperasi di wilayah pemukiman yang relatif lebih sepi kendaraan,” kata R.A.Mulyadi, Kepala Seksi Angkutan Tidak Dalam Trayek, DLLAJ Kota Bogor. Selain lebih aman, di wilayah pemukiman, becak masih dibutuhkan sebagian masyarakat pengguna jasa angkutan.Menurutnya, Pemerintah Kota Bogor memang sedang menata keberadaan becak. Kebijakannya bukan memusnahkanmelainkan menata keberadaan becak.

Pada tahun 2008 jumlah becak di wilayah Kota Bogor terdata sebanyak 1.725 unit. Semuanya terdata sebagai becak yang memiliki Surat Tanda Kepemilikan Becak (STKB). Sebagian besar beroperasi di wilayah Bogor Tengah. Tahun 2010 DPRD Kota Bogor merekomendasikan supaya operasi becak dipindahkan dari wilayah padat kendaraan. Pemerintah Kota Bogor kemudian menetapkan 38 pangkalan becak dan membatasi ruang gerak becak dengan menetapkan 16 ruas jalan bebas becak.

Pendataan tahun 2014 menunjukan, ada 6 pangkalan yang sudah kosong dan ruas jalan bebas becak bertambah menjadi 17. Sedangkan jumlah becak yang beroperasi tinggal 1.286 unit. Rupanya banyak becak yang sudah tidak layak jalan dan sebagian lain dibesituakan pemiliknya.

 RPJMD Tahun 2015 - 2019kemudian mengamanatkan DLLAJ Kota Bogor supaya mengurangi secara bertahap jumlah becak yang beroperasi.Untuk tahun 2015 becak yang dihapus ditetapkan sebanyak 325 unit. Diharapkan pada tahun 2019 nanti becak yang beroperasi tinggal sekitar 250 unit saja. “Itu pun tidak beroperasi di pusat-pusat kota, melainkanhanya di wilayah-wilayah pemukiman,” jelas Mulyadi. Alternatifnya, becak dimanfaatkan sebagai becak wisata dan beroperasi di kawasan-kawasan wisata.

Proses menuju kesana sudah dimulai. Di awal tahun 2015, DLLAJ sudah bergerak mengurangi jumlah becak dengan sistem kompensasi. Becak-becak yang setelah diperiksa dan dinyatakan sudah tidak layak jalan, ditarik dari para pemiliknya. “Sampai Maret kemarin 140 unit becak tidak layak jalan sudah kami tarik,” ungkap Mulyadi. Pada saat ditarik, para pemilik memperoleh kompensasi yang berkisar antara Rp 50 ribu sampai dengan Rp 300 ribu. Tergantung kondisi fisik becak setelah dilakukan pemeriksaan.

“Rata-rata pemilik tidak keberatan becaknya kami ambil, karena kenyataannya banyak becak mereka yang sudah rusak, tidak dioperasikan bahkan sudah dijual sebagi besi tua,” tambah Mulyadi. Kompensasi hanya berlaku pada becak yang terdata dengan bukti STKB. Keberadaan STKB membuat becak liar yang mungkin saja masuk dari wilayah lain, bisa langsung ditindak.

Jadi untuk sekarang, tidak perlu mengucapkan selamat tinggal pada becak. Sebab kalau mau menikmati naik becak, silakan menikmatinya di pemukiman-pemukiman. Disitu penumpang kadang merasa nyaman.

Komentar (0)


    Belum ada komentar untuk postingan ini

Komentari